kuatir

Kalian pasti mengenalnya, saya pun mengenalnya, malah saya sering mengalaminya. Namanya adalah kuatir. Sewaktu SMA kita kuatir tentang masa depan kita apakah melanjutkan kuliah atau bekerja. Setelah kuliah kita kuatir tentang pekerjaan kita, berapa lama nanti akan menganggur, dimanakah kita akan bekerja nantinya. Setelah bekerja kita kuatir tentang pernikahan kita. Siapakah nanti “si dia” yang akan menjadi pendamping hidup ku. Apakah dia orangnya baik, apakah dia orangnya mapan. Setelah menikah kita kuatir tentang persalinan, si istri kuatir akan keselamatannya dan suami kuatir akan biaya persalinan. Setelah punya anak kita kuatir anak kita akan jadi apa nantinya, apakah akan menjadi pendeta, apakah bisa nanti menjadi PNS. Begitulah seterusnya kekuatiran selalu ada sepanjang hidup ini. Janganlah kuatir sampai merampas sukacita kita.
Saudaraku, kekuatiran bukanlah keadaan. Kuatir adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk kuatir atau tidak. Kita sendirilah yang menentukan mau kuatir atau tidak. Jangan biarkan kuatir menguasai hidupmu. Jangan biarkan kuatir membuat engkau gampang marah atau emosi, jangan biarkan kuatir menyebabkan engkau stres atau depresi. Ketahuilah saudara kuatir tidak pernah mengerjakan sesuatu yang baik.
Saudaraku, ingat dan camkanlah selalu Firman Tuhan yang tertulis pada Injil Matius 6 ayat 25-26 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”
Benar saudaraku kita jauh melebihi burang-burung itu, kita jauh melebihi bunga bakung. Kita adalah buatan tangan Tuhan. Nafas yang kita hirup dihembuskan oleh Tuhan. Roh Tuhan ada dalam diri kita. Kita punya atribut dalam diri kita untuk berhasil. Kita pasti diberkati.
Jangalah kuatir saudaraku. Serahkanlah semua cita-citamu, harapanmu, impianmu pada Tuhan, berdoalah, bekerjalah, berusahalah, jangan takut gagal. Tuhan pasti buka jalan. Bukankah Tuhan berkata dalam Matius 7 ayat 7-8 “Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok baginya pintu akan dibukakan. Maukah engkau tidak menjadi kuatir ?

Penulis : Manotar Sinaga, S.Kep, M.Kes

variabel penelitian

Pengertian Variabel penelitian
Variabel adalah karakteristik atau sifat atau ciri dari individu yang akan diukur atau diamati. Jadi variabel harus bisa diukur atau diamati.
Contoh :
a. Seorang bayi (individu) mempunyai karakteristik atau ciri-ciri yaitu berat badan, panjang badan, jenis kelamin, usia, suku dan lain sebagainya.Apakah berat badan merupakan variabel? jawabnya Ya, bisa diukur? bisa. Mengunakan apa? timbangan ? hasilnya ? …. kg atau gram.
b. Seorang tenaga keesehatan (individu) yang bekerja di instansi RS pemerintah mempunyai karakterisik atau ciri yaitu motivasi kerja, lama kerja, tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, stres kerja, dan lain sebagainya.

Syarat variabel :
a. Mempunyai nama
b. Harus bisa diukur atau diamati
c. Nilainya bervariasi/heterogen atau berbeda beda untuk setiap individu

Jenis/macam variabel
a. Variabel independen
Yaitu variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi atau variabel pemicu atau variabel penyebab
Contoh : Perilaku merokok dengan kejadian kanker paru
V.Independen : perilaku merokok
V.Dependen : kejadian kanker paru

b.Variabel dependen
Yaitu variabel terikat atau variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat
Contoh : Perilaku merokok dengan kejadian kanker paru
V.Independen : perilaku merokok
V.Dependen : kejadian kanker paru

c. Variabel perantara
Yaitu variabel yang menjembatani pengaruh suatu variabel independen terhadap variabel dependen.
Contoh : Gaji akan meningkatkan kinerja bidan delima, dengan gaji yang memuasakan akan memotivasi bidan delima untuk bekerja lebih optimal sehingga kinerja bidan delima akan semaki baik.
V.Independen : gaji
V.Dependen : kinerja
V.Perantara : motivasi

d. Variabel pendahulu
Variabel independen yang bisa mempengaruhi variabel independen yang akan diteliti dan juga mempengaruhi variabel dependen.
Contoh : Pengetahuan tentang BPJS akan berpengaruh terhadap persepsi tentang BPJS. Tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan tentang BPJS. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi tentang BPJS
V.Independen : pengetahuan tentang BPJS
V.Dependen : persepsi tentang BPJS
V.Pendahulu : tingkat pendidikan
e. Variabel prakondisi
Variabel yang keberadaannya merupakan prasyarat agar variabel independen bisa bekerja terhadap variabel dependen.
Contoh : Gigitan nyamuk akan menyebabkan penyakit malaria dengan catatan bahwa dalam tubuh nyamuk terdapat parasit plasmodium.
V.Independen : gigitan nyamuk
V.Dependen : penyakit malaria
V.Prasyarat : adanya parasit plasmodium

Sudahkah kita berbuah ?

Sudahkah kita berbuah ?

Ketika kita menanam pohon buah-buahan, apakah yang kita harapkan? Tentu saja kita berharap pohon itu akan bertumbuh dan berbuah lebat. Namun, jika setelah sekian lama merawatnya, pohon itu hanya tumbuh lebat daunnya tetapi tidak ada buahnya sama sekali padahal kita sudah bersusah payah merawatnya, menyiraminya dan memberi pupuk setiap hari dalam waktu yang tidak singkat, tentunya akan membuat kita sangat kecewa. Ini seperti pohon ara yang dibicarakan Yesus pada Lukas 13 ayat 7 “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!”. Pohon yang tidak berbuah pasti akan mengecewakan pemiliknya.
Begitu juga dengan kehidupan kita orang Kristen yang tidak berbuah. Yesus pun berkata dalam Yohannes 15 ayat 2 : ”Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya”. Banyak dari kita yang sudah bertahun-tahun jadi Kristen tetapi karakter hidupnya tetap saja tidak berubah, tidak bertumbuh, kerdil alias masih kanak-kanak dalam rohani. Dalam Ibrani 5 ayat 12-13 dikatakan : “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras”. Bukankah ini seperti benih yang jatuh di pinggir jalan lalu benih itu dimakan burung atau benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu sehingga tidak bisa berakar, tumbuh sebentar dan akhinya kering atau mati. Atau juga benih yang jatuh di tanah semak duri lalu terhimpit semak duri itu sendiri dan akhirnya mati. Benih itu bercerita tentang Firman Tuhan. Kita banyak mendengar Firman baik melalui khotbah para hamba Tuhan atau membaca renungan, tapi Firman itu rasa-rasanya berlalu begitu saja. Apalagi kalau firman yang disampaikan itu keras, kita langsung tersinggung dan marah terhadap hamba Tuhan itu.
Alkitab menegaskan bahwa untuk menghasilkan buah, ranting-rantingnya harus dibersihkan. Proses pembersihan inilah yang disebut pembentukan, baik itu melalui teguran, ajaran dan sebagainya dengan tujuan untuk mendisiplinkan kita, bukan untuk maksud menyakiti tapi demi kebaikan kita. Yohannes 15 ayat 8 “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”. Hidup yang berbuah adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya. Itu sebagai tanda bahwa kita adalah murid-muridNya.
Bagaimana caranya supaya kita berbuah? Dalam Yohannes 15 ayat 4 dikatakan “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”. Untuk menegaskan hal ini kata tinggal ditulis sampai sepuluh kali dalam 10 ayat pertama dalam Yohannes 15 ini. Tinggal di dalam Tuhan berarti taat melakukan Firman Nya. Ketaatan kita melakukan Firman itu adalah buah-buah roh. Inilah yang dinilai dunia, orang Kristen yang berbuah adalah yang hidupnya jadi kesaksian baik bagi orang-orang di luar Tuhan. Kepada jemaat Filipi Rasul Paulus berpesan dalam Filii 2 ayat 15” supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,”.
Inilah tugas yang kita emban sebagai seorang Kristen yaitu memiliki kehidupan yang bercahaya di tengah dunia yang penuh kegelapan ini. Orang Kristen yang berbuah adalah orang Kristen yang melayani Tuhan sesuai dengan talenta dan karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Pengorbanan yang kita berikan kepada Tuhan adalah buah-buah yang dapat memperlebar Kerajaan Allah di muka bumi ini. Tetapi banyak orang Kristen yang enggan untuk terlibat dalam pelayanan karena harus berkorban dan memberi, tidak punya waktu dan takut menggangu pekerjaan mereka. Itu yang mereka hindari. Dalam Ibarani 6 ayat 10 mengatakan “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang”. Jadi jerih payah kita untuk melayani Tuhan, apapun bentuknya tidak akan pernah sia-sia. Amin