Pengantar Epidemiologi

1.1. Definisi Epidemiologi
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan masalah kesehatan atau kejadian yang berhubungan dengan kesehatan (mencakup penyakit) dan aplikasinya untuk mengatasi penyakit atau masalah kesehatan tersebut (WHO, 2018). Epidemiologi adalah metode yang digunakan untuk menemukan masalah kesehatan dan penyakit di dalam suatu komunitas (Prevention, 2018).
Kata kunci yang digunakan dalam mempelajari epidemiologi, yaitu :
1. Frekuensi yaitu banyaknya kejadian penyakit atau masalah kesehatan yang dinyatakan dalam ukuran epidemiologi seperti ratio, proporsi, dan angka (insiden dan prevalensi).
Tabel 1. Insiden (jumlah kasus baru) HIV di Provinsi Sumatera Utara
No. Tahun Insiden (jumlah kasus baru) HIV
1 2014 1.628
2 2015 1.491
3 2016 1.891
(Indonesia, 2017)
2. Distribusi yaitu penyebaran penyakit/masalah kesehatan. Penyebaran penyakit/masalah kesehatan dapat dilakukan menurut orang (umur, jenis kelamin, pendidikan, dan lain sebagainya) menurut tempat dan menurut waktu.
Grafik 1. Distribusi Kejadian ISPA berdasarkan jenis kelamin di Indonesia Tahun 2013

3. Determinan yaitu faktor resiko/ faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit/masalah kesehatan.
Penelitian tentang faktor risiko kegemukan pada wanita dewasa Indonesia (Risk Factors of Overweight among Indonesian Women) ditemukan hasil bahwa perempuan yang berstatus kawin, berpendapatan tinggi, tinggal di perkotaan, beraktivitas fisik ringan, mengonsumsi makanan dan minuman manis >10% angka kegemukan, mengonsumsi karbohidrat >55% angka kegemukan, serta berpendidikan tinggi berisiko mengalami kegemukan berturut-turut 2.712, 1.566, 1.358, 1.213, 1.100, 1.119, 0.817 kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok pembandingnya. Tingkat kecukupan energi, asupan lemak dan protein, konsumsi sayur dan buah serta serat tidak menunjukkan hasil yang signifikan terhadap kegemukan (Rian Diana, Yasmin dan Hardinsyah, 2013).
Jadi
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang frekuensi, distribusi dan determinan masalah kesehatatan yang terjadi pada masyarakat.
Latihan 1 Jodohkanlah
1. Hasil pencatatan penyakit Tb paru di Desa X Kota Y Tahun 2018 diperolah bahwa penyakit Tb paru diderita oleh 80% laki-laki dan 20% perempuan
2. Penyakit diare berhubungan erat dengan kualitas air minum yang dikonsumsi
3. Jumlah pasien tifus abdominalis berulang (kambuh) di Kota X Tahun 2018 sebesar 20/1.000 penduduk
A. Frekuensi
B. Distribusi
C. Determinan
Jawab: 1.B 2.C 3.A

1.2. Masalah Kesehatan
Masalah kesehatan mencakup (Bustan, 2012) : 6D
1.Death (kematian)
Grafik 2. Jumlah Kematian Campak di Indonesia Tahun 2016

2. Disease (penyakit)
Grafik 3. Prevalensi gangguan pendengaran menurut umur di Indonesia Tahun 2013

3. Disability (kecacatan)
Tabel 2. Proporsi Kecacatan Kusta di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016
Tingkat cacat Frekuensi Persentase
Tinkat I 21 11.93
Tingkat II 31 17.31
Total 52 29.24
(Indonesia, 2017)
4. Discomfort (ketidaknyamanan)
Ketidaknyamanan adalah kondisi ketika individu mengalami sensasi tidak nyaman sebagai respon terhadap rangsangan berbahaya. Ketidaknyamanan dapat berupa rasa nyeri, kesemutan dan kaki kebas dapat dialami pada pasien pasca tindakan Percutaneous Coronary Angiography (PCA) yang diberikan penekanan bantal pasir pada area femoral seath. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh penggunaan bantal pasir 2,1 kg, 2,3 kg dan 2,5 kg pasca tindakan PCA terhadap keluhan ketidaknyamanan pada observasi jam kesatu, jam kedua dan jam ketiga. Berdasarkan hasil penelitian direkomendasikan penggunaan bantal pasir 2,1 kg pada pasien pasca PCA, dapat menjadi acuan pemberian asuhan keperawatan pasca PCA, dilakukan penelitian lanjut, dapat menambah ilmu perawat dalam merawat pasien pasca PCA (Kusumantoro, 2013).
5. Dissatisfaction (ketidakpuasan)
Hasil penelitian tentang dampak kebijakan pelayanan kesehatan gratis terhadap kepuasan pasien dalam menerima pelayanan kesehatan puskesmas di Kota Ambon diperoleh bahwa tingkat kepuasan masyarakat masih jauh dari harapan ditinjau dari segi akses pelayanan, dalam arti masyarakat belum puas dengan pelayanan gratis yang diterima dari puskesmas (Corputty LS, Kusnanto H, 2013).
6. Destitution (kemelaratan)
Sejak 1987, pemerintah Negara Bagian Kano-Nigeria telah memperhatikan tingginya angka kemelaratan di antara penduduk. Sebuah survei menunjukkan bahwa pada tahun 1987 terdapat 1,5 juta orang miskin di Kano (Indabawa 1991). Salah satu masalah sosial yang ditimbulkan oleh kemelaratan adalah timbulnya praktik mengemis di tempat-tempat umum pusat kota (Indabawa, 2000).
Menurut CDC masalah kesehatan mencakup (Prevention, 2018) :
Tabel 3. Masalah Kesehatan Menurut CDC
Keterpaparan lingkungan • Timbal dan logam berat
• Polusi udara dan pencetus asma
Penyakit infeksi • Penyakit yang ditulaskan melalui makanan
• Influenza and pneumonia
Cedera • Peningkatan kasus pembunuhan di dalam komunitas
• Gelombang kekerasan dalam negeri
Penyakit non infeksi • Peningkatan penyebaran kanker
• Peningkatan kasus lahir cacat
Bencana alam • Badai Katrina and Rita (2005)
• Gempa bumi di Haiti (2010)
Terorisme • Tragedi World Trade Center (2001)
• Penggunaan virus antrax (2001)
Latihan 2
1. Death artinya …
2. Disease artinya …
3. Discomfort artinya …
4. Dissability artinya …
5. Dissatisfaction artinya …
6. Destitution artinya …

1.3. Jenis Epidemiologi
Epidemiologi dapat dikategorikan atas (Bustan, 2012) :
1.3.1.Deskriptif
Epidemiologi deskriptif mempelajari frekuensi (jumlah) dan distribusi (penyebaran) masalah kesehatan. Epidemiologi ini menjawab pertanyaan siapa (who) yang terkena masalah kesehatan, dimana (where), kapan (when) dan berapa banyak (how many) masalah kesehatan itu terjadi.
1.3.2.Analitik
Epidemiologi analitik mempelajari determinan (faktor resiko/faktor yang mempengaruhi) terjadinya masalah kesehatan. Epidemiologi analitik menjawab pertanyaan mengapa (why) masalah kesehatan itu terjadi.
1.3.2. Eksperimental
Pada epidemiologi eksperimental dilakukan ujicoba untuk memastikan bahwa suatu faktor merupakan penyebab terjadinya masalah kesehatan.
Berdasarkan bidang kajiannya, epidemiologi dapat dikategorikan menjadi :
a. Epidemiologi penyakit menular
b. Epidemiologi gizi
c. Epidemiologi kesehatan reproduksi
d. Epidemiologi kependudukan
e. Dan lain lain

Latihan 3
1. Seorang petugas kesehatan di rumah sakit melakukan pencatatan penyakit ISPA tahun 2018. Prevalensi penyakit ISPA adalah 20/100.000 penduduk.
Jenis pidemiologi apakah yang dibahas dari kasus diatas ?
A. Epidemiologi Deskriptif
B. Epidemiologi Analitik
C. Epidemiologi Ekperimental
2. Seorang kepala puskesmas melakukan penelitian tentang faktor resiko terjadinya penyakit Diare di Kelurahan Aek Godang tahun 2018.
Jenis epidemiologi apakah yang dibahas dari kasus diatas ?
A. Epidemiologi Deskriptif
B. Epidemiologi Analitik
C. Epidemiologi Ekperimental

1.4. Peran Epidemiologi
1.4.1. Valanis
Epidemiologi memiliki peran :
1. Investigasi etiologi penyakit
2. Identifikasi faktor resiko penyakit
3. Identifikasi sindrom dan klasifikasi penyakit
4. Melakukan diagnosa banding dan perencanaan pengobatan
5. Surveilens status kesehatan penduduk
6. Diagnosis komunitas dan perencanaan pelayanan kesehatan
7. Evaluasi pelayanan kesehtan dan intervensi kesehatan masyarakat (Bustan, 2012).
B. Menurut Beoglehole (WHO, 1977)
Peran epidemiologi adalah :
1. Mencari kausa masalah kesehatan
2. Identifikasi riwayat alamiah penyakit
3. Deskripsi masalah kesehatan
4. Evaluasi intervensi kesehatan masyarakat (Bustan, 2012).

1.5. Ruang Lingkup Epidemiologi
Ruang lingkup epidemiologi mencakup 6E, yaitu (Bustan, 2012) :
1. Etiologi : Identifikasi penyebab masalah kesehatan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kedokteran mendorong para tenaga ahli selalu mengadakan riset terhadap berbagai penyakit termasuk salah satunya adalah penyakit menular demi mengatasi kejadian penderitaan dan kematian akibat penyakit. Berdasarkan perjalanannya penyakit dapat dibagi menjadi dua yaitu penyakit akut dan kronis. Berdasarkan sifat penularannya dapat dibagi menjadi dua yaitu penyakit menular dan tidak menular. Proses terjadinya penyakit merupakan interaksi antara agen penyakit, manusia (Host) dan lingkungan sekitarnya. Untuk penyakit menular, proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agent penyakit (mikroorganisme hidup), manusia dan lingkungan. Sedangkan untuk penyakit tidak menular proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agent penyakit (non living agent), manusia dan lingkungan. Penyakit tidak menular dapat bersifat akut dapat juga bersifat kronis. Pada Epidemiologi Penyakit tidak Menular terutama yang akan dibahas adalah penyakit-penyakit yang bersifat kronis (Darmawan, 2016).
2. Efikasi : melihat efek suatu intervensi kesehatan
Penelitian tentang Pengaruh Suplementasi Seng (Zn) Dan Zat Besi (Fe) Terhadap Kadar Hemoglobin Balita Usia 3-5 Tahun desain true eksperimental dengan randomized control group pre post test dengan total subjek 32 berusia 3-5 tahun. Subjek dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan tersebut adalah diberi suplementasi seng (1) , suplementasi zat besi (2) , serta suplementasi seng dan zat besi (3). Dosis suplementasi zat besi 7,5 mg/ hari, suplementasi seng adalah 10 mg/ hari. Intervensi dilakukan selama 60 hari. Pengambilan sampel darah untuk mengetahui kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan setelah intervensi oleh tenaga laboratorium dengan metode fotometri diperolah hasil terdapat 40% dari seluruh subjek memiliki kadar hemoglobin <11 gr/dl. Terjadi peningkatan kadar hemoglobin pada kelompok perlakuan kedua dengan nilai p 0,001. Sedangkan pada kelompok perlakuan 1 dan 3 juga ada peningkatan kadar hemoglobin namun tidak signifikan. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa Pemberian suplementasi zat besi terbukti berpengaruh meningkatkan kadar hemoglobin balita (Candra, 2016). 3. Efektivitas : besarnya hasil yang diperoleh dari suatu intervensi kesehatan Penelitian tentang efektivitas penyuluhan kesehatan tentang program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi terhadap peningkatan pengetahuan p4k pada ibu hamil di wilayah Puskesmas Karangnongko Klaten diperoleh hasil pengetahuan ibu hamil tentang P4K sebelum diberi penyuluhan adalah kurang sebanyak 37 responden (52,1%) sedangkan setelah diberi penyuluhan adalah cukup sebanyak 38 responden (53,5%), p value sebesar 0,001 (p < 0,05). Maka dapat disimpulkan penyuluhan kesehatan tentang program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi efektif terhadap peningkatan pengetahuan P4K pada ibu hamil (Wahyuni S, 2016). 4. Efisiensi : melihat pengaruh yang diperoleh berdasarkan biaya yang dikeluarkan Salah satu metoda yang lazim digunakan dalam penetapan prioritas alternatif pemecahan masalah kesehatan yaitu metoda Analisis Pembiayaan yang lebih dikenal cara efektifitas dan efisiensi. Untuk menentukan efisiesi berdasarkan Cost (biaya yang dikeluarkan) dibuat kriteria yaitu (Symond, 2013) yaitu : nilai l = biaya sangat murah, nilai 2 = biaya murah, nilai 3 = biaya cukup murah, nilai 4 = biaya mahal dan nilai 5 = biaya sangat mahal. Tabel 4. Alternatif intervensi Penyakit TB berdasarkan efisiensi No. Alternatif intervensi Penyakit TB (Biaya =Cost) 1 Memberikan motivasi kepada masyarakat tentang pentingnya hidup bersih dan sehat. 4 2 Memberikan penyuluhan tentang pencegahan dan penularan TB kepada kelompok resiko dan penyebaran leaflet 4 3 Melakukan advokasi kepada pejabat dan instansi terkait agar menyediakan anggaran khusus PMT penderita dan petugas 5 4 Melakukan penjaringan suspect secara berkala melalui puskel 3 5 Meningkatkan koordinasi dengan sector terkait sehingga pemberantasan penyakit Tb dapat dilakukan 4 6 Menggerakkan penanggungjawab rill program lebih aktif untuk melakukan penjaringan suspect TB sewaktu puskel 2 7 Melakukan penyuluhan tentang rumah dan kondisi lingkungan rumah yang sehat 3 8 Melakukan pemberdayaan kader TB dan PMO dalam pengawasan penderita TB dan penyebaran buku saku. 4 Dari tabel diatas, maka intervesi yang paling mudah dilakukan adalah intervensi dengan biaya paling murah, yaitu intervensi nomor enam. 5. Evaluasi : penilaian keberhasilan suatu program kesehatan Penelitian tentang evaluasi pelaksanaan program usia lanjut se-Kabupaten Sleman diperoleh kesimpulan (Purwanta, Suryani, 2001) : a. Program kesehatan usia lanjut telah berjalan di semua Puskesmas se-Kabupaten Sleman b. Pengetahuan kordinator program tentang manajemen program masih sangat kurang c. Faktor pendukung yang ada adalah kebijakan pemerintah, pendidikan koordinator program, peran serta masyarakat d. Adanya kerjasama lintas sektoral dan lintas program yang belum berjalan e. Pelaksanaan program telah sesuai dengan indicator program Depkes RI dan Dinkes Provinsi DIY 6. Edukasi : intervensi memberikan pendidikan kesehatan Gambar 1. Penyuluhan pencegahan tifus abdominalis di SMA Negeri 1 Sibolga Tahun 2017
Gambar 2. Penyuluhan bahaya merokok di SMA Negeri 2 Sibolga tahun 2018

Latihan 4
1. Seorang petugas kesehatan di puskesmas melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi/faktor resiko terjadinya penyakit hipertensi di Kota X Tahun 2018.
Ruang lingkup epidemiologi apakah yang dibahas dari kasus diatas ?
A. Efisiensi C. Evaluasi
B. Etiologi D. Efektivitas
2. Seorang kader kesehatan di puskesmas melakukan penyuluhan tentang manfaat asi eksklusif.
Ruang lingkup epidemiologi apakah yang dibahas dari kasus diatas ?
A. Efikasi C. Evaluasi
B. Etiologi D. Edukasi

DAFTAR PUSTAKA
Bustan, N. (2012) Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Candra, A. (2016) “Pengaruh Suplementasi Seng (Zn) Dan Zat Besi (Fe) Terhadap Kadar Hemoglobin Balita Usia 3-5 Tahun,” Journal of Nutrition and Health, 4(2). Tersedia pada: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/actanutrica/article/view/13769.
Corputty LS, Kusnanto H, dan L. L. (2013) “Dampak Kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis Terhadap Kepuasan Pasien Dalam Menerima Pelayanan Kesehatan Puskesmas Di Kotaambon (The Impact Of Free Health Care Policy On Patients Satisfaction In Receiving Health Service At Health Center In Ambon City),” Ju,” JURNAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA, 2(2), hal. 95–104. Tersedia pada: https://idl-bnc-idrc.dspacedirect.org/bitstream/handle/10625/54046/IDL-54046.pdf?sequence=1.
Darmawan, A. (2016) “Epidemiologi Penyakit Menular Dan Penyakit Tidak Menular,” Journal UNJA, 4(2), hal. 195–202. Tersedia pada: https://online-journal.unja.ac.id/index.php/kedokteran/article/view/3593/2661%0A.
Indabawa, S. A. (2000) “Overcoming Destitution through Literacy: A Case of the Disabled Persons’ Literacy Programme in Kano State, Nigeria,” Journal of Social Development in Africa, 15(1), hal. 15–25. Tersedia pada: http://pdfproc.lib.msu.edu/?file=/DMC/African Journals/pdfs/social development/vol15no1/jsda015001003.pdf.
Indonesia, K. K. R. (2017) Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016. Tersedia pada: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/lain-lain/Data dan Informasi Kesehatan Profil Kesehatan Indonesia 2016 – smaller size – web.pdf.
KESEHATAN, B. P. D. P., RI, K. K. dan 2013, T. (2013) Riset Kesehatan Dasar 2013.
Kusumantoro, A. (2013) “Pengaruh Penggunaan Bantal Pasir Terhadap Keluhan Ketidaknyamanan Pasien Pasca Percutaneous Coronary Angiography (PCA) di Instalasi Jantung Dan Pembuluh Darah RSUP dr. Kariadi Semarang,” Jurnal Keperawatan UNIMUS, 6(1). Tersedia pada: http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/FIKkeS/article/view/1869.
Prevention, C. for D. C. and (2018) What is epidemiology? Tersedia pada: https://www.cdc.gov.
Purwanta, Suryani, M. A. (2001) “Evaluasi pelaksanaan program usia lanjut se Kabupaten Sleman,” Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 4(3). Tersedia pada: https://jurnal.ugm.ac.id/jmpk/article/view/2829/2550.
Rian Diana, I. Y., Yasmin, G. dan Hardinsyah, D. (2013) “FAKTOR RISIKO KEGEMUKAN PADA WANITA DEWASA INDONESIA (Risk Factors of Overweight among Indonesian Women),” Jurnal Gizi dan Pangan, 8(1), hal. 1–8. Tersedia pada: http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/7226/5647.
SERVICES, U. S. D. O. H. A. H. dan (CDC), C. for D. C. and P. (2012) Principles of Epidemiology in Public Health Practice An Introduction to Applied Epidemiology and Biostatistics. 3 ed. Atlanta.
Symond, D. (2013) “Penentuan Prioritas Masalahkesehatandanprioritas Jems Intervensikegiatandalampelayanan Kesehatan Disuatu Wilayah,” Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(2). Tersedia pada: jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/jkma/article/view/115/121.
Wahyuni S, E. W. E. (2016) “Efektivitas penyuluhan kesehatan tentang program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi terhadap peningkatan pengetahuan p4k pada ibu hamil di wilayah Puskesmas Karangnongko Klaten,” MOTORIK Jurnal Ilmu Kesehatan (Journal Of Health Science), 11(23). Tersedia pada: http://ejournal.stikesmukla.ac.id/index.php/motor/article/view/260.
WHO (2018) Epidemiology. Tersedia pada: http://www.who.int.

materi ini dapat di download pada link di bawah ini
pengantar epidemiologi
Penulis : Manotar Sinaga, S.Kep, M.Kes

populasi dan sampel

Populasi dan sampel

Populasi dan sampel

  1. Pengertian populasi dan sampel

Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek yang akan diteliti. Istilah subjek digunakan untuk menyatakan manusia (ibu hamil, ibu nifas, PUS, WUS, lansia, bayi, balita, petugas kesehatan, dan lain sebagainya). Istilah objek untuk menyatakan benda mati (air bersih, kebisingan, ventilasi dan lain sebagainya).

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti. Sampel dilakukan untuk menghemat biaya, tenaga, waktu dan alasan ketelitian. Namun perlu diperhatikan agar pengambilan sampel sebaiknya representatif, artinya sampel yang akan diambil memang mewakili dari populasinya.

  1. Alasan pengambilan sampel
  2. Menghemat biaya
  3. Mempercepat proses pelaksanaan penelitian
  4. Menghemat tenaga
  5. Menghemat waktu
  6. Memperoleh hasil yang lebih akurat
  7. Memperluas ruang lingkup penelitian.

2. Tehnik pengambilan sampel

Secara umum  pengambilan sampel ada 2 cara, yaitu :

  1. Probability sampling

Pengambilan sampel dimana seluruh populasi mempunyai peluang atau kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Pengambilan sampel ini dilakukan secara acak.

  1. Acak sederhana (simple random sampling)

Pengambilan sampel dengan cara acak sederhana, dapat dibedakan menjadi 2 cara yaitu :

Tehnik undian (lottery technique)

Misalnya populasi ada sebanyak 100 orang dan sampel sebanyak 80 orang, maka terlebih dahulu kita buat penomoran sampel di kertas sebanyak 1 sampai 100, kemudian masukkan penomoran tersebut ke dalam kotak undian. Selanjutnya kita lakukan penarikan nomor sampai sebanyak 80 kali.

Tabel bilangan random (random number)

Untuk memudahkan melakukan pengacakan pada sampel dengan jumlah besar, gunakanlah tabel bilangan random. Misalnya populasi sebanyak 300 dan sampel sebanyak 120 orang. Jatuhkan jarum pentul pada kertas tabel bilangan random, catatlah 3 bilangan terakhir kemudian urutkan bilangan lainnya sehingga diperoleh bilangan dengan  3 digit, bilangan yang digitnya diatas 300 kita abaikan. Lakukan seterusnya sehingga diperoleh sebanyak 120 bilangan (lihat tabel bilangan random).

2. Acak sistematis (systematic random sampling)

Tenhik pengambilan sampel dengan cara mengurutkan bilangan tertentu atau kelipatan bilangan tersebut. Misalnya populasi sebanyak 100 orang, sampel yang akan diambil 20 orang, maka dapat diambil bilangan kelipatannya yaitu 100/20 = 5. Jadi, kita buat nomor undian 1-5, kemudian kita lakukan pengacakan. Jika seandainya angka yang kita dapat dari pengacakan adalah angka 2, maka angka selanjutnya dapat kita urutkan secara sistematis yaitu dengan menambahkan 5 untuk angka berikutnya. Sehingga didapat angka 2,7,12,17, … dan seterusnya sampai diperoleh sebanyak 20.

3. Acak bertingkat (stratified random sampling)

Tehnik pengambilan sampel pada populasi yang mempunyai kelas atau jenjang atau tingkatan. Misalnya dilakukan penelitian terhadap persepsi mahasiswa terhadap kinerja dosen di suatu program studi, dimana program studi tersebut mempunyai 3 tingkat, yaitu tingkat 1, tingkat 2 dan tingkat 3. Jika seadainya populasi ada sebanyak 120 orang, dimana tingkat 1 sebanyak 40 orang, tingkat 2 sebanyak 40 orang dan tingkat 3 sebanyak 40 orang. Besar sampel sebanyak 60 orang, maka dapat diambil sampel sebanyak 20 orang untuk setiap tingkatan.

4. Sampel kelompok (cluster sampling)

Pengambilan sampel secara acak pada populasi yang berkelompok. Kelompok bisa merupakan unit geografis, misalnya suatu kecamatan terdiri dari 4 desa, yaitu desa A, desa B, desa C dan desa D. Jika yang dibutuhkan sebanyak 3 desa, maka dapat dilakukan/undian pengacakan terhadap 4 desa tersebut

5. Sampel wilayah bertingkat (multistage sampling)

Pengambilan sampel secara acak berdasarkan tingkat wilayah secara bertahap/bertingkat. Penelitian ini biasanya dilakukan untuk skala besar, seperti provinsi, negara, atau benua, maupun skala internasional.  negara à  provinsi à kabupaten/kota à kecamatan à desa à lingkungan.

  1. Non probability sampling

Pengambilan sampel dimana tidak semua populasi mempunyai peluang atau kesempatan yang sama untuk menjadi sampel.

  1. Purporsive sampling

Pengambilan sampel dengan kriteria tertentu. Kriteria atau syarat dibuat oleh peneliti. Misalnya penelitian terhadap tingkat kecemasan ibu bersalin dimana peneliti menetapkan kriteria :

–       Ibu primipara

–       Bisa membaca dan menulis

2. Quota sampling

Pengambilan sampel dengan cara menetapkan jatah atau quota tertentu

3. Accidental sampling

Pengambilan sampel yang kebetulan ada atau tersedia di lokasi penelitian pada saat peneliti melakukan pengumpulan data. Responden yang kebetulan ada di lokasi penelitian itulah yang diambil sebagai sampel penelitian.

Penulis : Manotar Sinaga, S.Kep, M.Kes

pengumpulan data

Pengumpulan data

Pengumpulan data adalah kegiatan untuk mengumpulkan data mentah. Pengumpulan data dapat dilakukan secara sensus yaitu pengumpulan data pada setiap populasi. Contoh sensus penduduk Indonesia tahun 2010. Dapat juga dilakukan secara survei yaitu pengumpulan data pada sebagian populasi. Contoh Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012.

Secara umum tehnik atau metode atau cara pengumpulan data dapat dilakukan secara :

  1. Pengisian Angket atau kuesioner

Angket atau kuesioer merupakan lembar pertanyaan/pernyataan yang diberikan kepada  responden. Pengisian angket  atau kuesioner sebaiknya diisi langsung oleh responden.

Jenis Angket atau kuesioner

  1. Menurut pilihan jawaban :

—  Dikotomi : pertanyaan/pernyataan yang diberikan kepada  responden pilihan jawabannya terdiri dari dua pilihan jawaban

Misalnya :

ü  Ya dan Tidak

ü  Benar dan Salah

ü  Dilakukan dan Tidak dilakukan

—  Likert : pertanyaan/pernyataan yang diberikan kepada  responden pilihan jawabannya bertingkat

Misalnya :

ü  Selalu, Sering, kadang-kadang, Tidak pernah

ü  sangat setuju, setuju, Ragu-ragu, Tidak setuju, sangat tidak setuju

  1. Jenis Pertanyaan/pernyataan
  • Terbuka : responden bebas memberikan jawaban
  • Tertutup : responden hanya memilih jawaban yang tersedia
  • Campuran

       Syarat kuesioner/angket :

  1. Singkat, jelas, mudah dipahami responden
  2. Responden dapat menjawab dengan benar
  3. Tidak menyimpang dari tujuan penelitian
  4. Tidak menyinggung perasaan responden
  5.  Tiap pertanyaan hanya mempunyai satu makna
  6. Tiap pertanyaan harus ada jawabnya
  7.  Pertanyaan bersifat netral
  8.  Jumlah pertanyaan tidak boleh terlalu banyak
  9.  Pertanyaan tidak bersifat hipotesis

       Pembuatan kuesioner/angket

—  Kuesioner dapat dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan tinjauan kepustakaan. Untuk   kuesioner/angket yang baru perlu diuji validitas dan reliabilitas

—  Perlu dibuat kisi-kisi terlebih dahulu

—  Kuesioner dapat juga dimodifikasi dari peneliti lain dengan topik masalah yang sama

       Pengisian kuesioner/angket

—  Pengisian angket atau kuesioner dapat diantar langsung kepada responden atau dikirim melalui pos, sedangkan pengembaliannya dapat ditunggu oleh petugas pengumpul data atau secara canvasser

—  Canvasser : pengembalian angket atau kuesioner dikirim melalui pos atau alamat yang ditentukan.

       Contoh :

1)    Kuesioner/angket pengetahuan ibu tentang diare

2)   Kuesioner/angket tingkat kecemasaan dalam menghadapi persalinan

3)   Kuesioner/angket sikap remaja tentang seks bebas

4)   Kuesioner/angket tingkat depresi lansia yang tinggal di panti werda

5)   Kuesioner/angket pengetahuan PUS tentang manfaat KB

Keuntungan angket atau kuesioner :

  1. Biaya relatif murah
  2. Tidak membutuhkan banyak tenaga
  3. Dapat diulang dengan cepat

       Kerugian :

  1. Jawaban tidak spontan
  2. Ada pertanyaan yang tidak dijawab
  3. Jawaban diisi oleh orang lain
  4. Tidak dapat digunakan untuk responden yang buta aksara
  5. Lembar Observasi

Observasi berarti melakukan pengamatan untuk mendapatkan data yang seobjektif mungkin dan juga bisa membuktikan jawaban responden.

Lembar Observasi merupakan lembar pertanyaan/pernyataan berisi tentang hal-hal yang akan diobservasi. Digunakan untuk mengukur perilaku atau hal yang dapat diobservasi. Biasanya lebih sulit dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama dibanding angket/kuesioner

Misalnya :

Ø  Lembar observasi perilaku cuci tangan perawat di ruang ICU

Ø  Lembar observasi kejernihan air minum

Ø  Lembar observasi Kelayakan ventilasi rumah

Ø  Lembar observasi Pemberian pelayanan kesehatan yang sesuai standar

  1. Lembar Wawancara

Wawancara adalah proses interaksi atau komunikasi secara langsung antara pewawancara dengan responden. Waktu efektif lebih kurang 1,5 jam. Digunakan dalam FGD (focus group discussion)

Lembar Wawancara merupakan pedoman untuk menggali informasi lebih dalam tentang masalah penelitian

Jenis wawancara :

ü  Terstruktur : menggunakan lembar wawancara

ü  Tidak terstruktur : tidak menggunakan lembar wawancara

Keuntungan :

  1. Fleksibel karena urutan pertanyaan tidak harus sesuai dengan daftar pertanyaan
  2. Jawaban dapat diperoleh dengan segera
  3. Dapat menilai sikap dan kebenaran jawaban yang diberikan oleh responden
  4. Dari ekspresi dan mantapnya jawaban dapat diketahui bahwa jawaban tersebut memiliki keyakinan atau tidak
  5. Dapat membantu responden mengingat hal-hal yang lupa

Contoh :

  1. Lembar wawancara tentang perilaku masyarakat suku X dalam mengkonsumsi daun sirih
  2. Lembar wawancara bagaimana persiapan keluarga masyarakat suku A dalam menyambut kelahiran bayi

            Kekurangan tehnik wawancara :

  1. Relatif membutuhkan tenaga, waktu dan biaya yang besar
  2. Dapat menimbulkan kesalahan atau bias yang berasal dari pemawawancara maupun dari responden
  3. Bila pertanyaan yang diajukan terlalu banyak maka akan melelahkan hingga kualitas data akan menurun
  4. Rekam medik/medical record/Lembar dokumentasi/Catatan/dummy tabel

Rekam medik/medical record/Lembar dokumentasi/Catatan/dummy tabel merupakan data sekunder.

Misalnya :

  1. Data kejadian diare di Puskesmas X
  2. Data kunjungan ANC di Klinik Bersalin Sayang papa
  3. Data Jumlah pasien rawat jalan di Rumah Sakit X
  4. Data bayi yang telah mendapatkan imunisasi polio, DPT, BCG dan campak
  5. Data Angka kejadian penyakit DHF di Kelurahan X
  6. Data jumlah PUS di Lingkungan X
  7. Data bayi dengan kejadian BBLR
  8. Pengukuran

Dilakukan melalui alat ukur : tensi meter, meteran, timbangan, Hb Sahli, dan lain sebagainya.

Macam alat ukur

v  Tensi meter : Tekanan darah (mmHg)

v  Meteran : Tinggi badan/panjang badan, Tinggi Fundus Uteri (TFU) (cm atau meter)

v  Timbangan : Berat badan (gram atau kilogram)

v  Hb Sahli : Kadar Hb (haemoglobin)

v  Tonometer : Tekanan intra okuler (TIO)

  1. Pemeriksaan, dapat dilakukan melalui :
  2. Pemeriksaan laboratorium

—   EKG : elektro kardio gram untuk melihat aktivitas listrik jantung

—   Pemeriksaan darah :   Golongan darah, KGD (kadar gula darah), Jumlah leukosit, eritrosit, trombosit)

—   Pemeriksaan sputum : kuman TB

—   Pemeriksaan urin : pH urin, proteinuria

—   Pemeriksaan tinja : jenis bakteri

  1. Pemeriksaan fisik :

—   Inspeksi

—   Palpasi

—   Perkusi

—   Auskultasi

  1. Pemeriksaan radiologik :

—   X ray : fraktur

—   Mammografi : stadium kanker payudara

  1. Pemeriksaan diagnostik
  • EKG : elektro kardio gram untuk melihat aktivitas listrik jantung
  • Endoskopi
  • USG : untuk menentukan usia kehamilan, adanya kelainan misalnya tumor
  • CT Scan
  • MRI

skala ukur

ada 2 kategori skala ukur, yaitu :
1. kategorik/kualitatif, terbagi atas skala ukur nominal dan ordinal
2. numerik/kuantitatif, terbagi atas skala ukur interval dan ratio

1. Skala nominal
a. Diperoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi
b. Posisi data setara (tidak ada lebih besar atau lebih kecil)
c. Tidak bisa dilakukan operasi matematika
d. Contoh : Suku (Batak, Jawa, Minang)

2. skala ordinal
a. Diperoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi tetapi diantara data terdapat hubungan
b. Menyatakan tingkatan/ posisi data tidak setara
c. Tidak bisa dilakukan operasi matematika
d. Contoh : Tingkat pendidikan (SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi)

3. skala interval
a. Tidak mempunyai kategori/klasifikasi variabel
b. Tidak mempunyai nilai o mutlak (nilai o absolut) : nilai nol yang memiliki makna
c. Contoh : suhu tubuh o derajat celcius berbeda dengan o derajat Fanrenheit.

4. skala ratio
a. Tidak mempunyai kategori variabel
b. Mempunyai nilai o mutlak (nilai o absolut)
c. Contoh : berat badan, tinggi badan, kadar gula darah. Berat badan 0 kg tidak ada artinya.

macam data

macam data
Data adalah sekumpulan informasi (dalam bentuk angka atau tidak dalam bentuk angka) yang diperoleh dari hasil perhitungan ataupun pengukuran.
Misalnya :
· Data tekanan darah pasien hipertensi di RS. X
· Data kadar glukosa darah pasien DM di RS. A
· Data cakupan imunisasi di Puskesmas X

Macam –macam data
1. Menurut tingkat pengelolaannya :
Ø Raw data : data mentah
Ø Array data : data mentah yang sudah disusun besar kecilnya ( misalnya : mulai dari data tekanan darah rendah sampai dengan tekanan darah tertinggi)
Ø Ungroup data : data yang belum dikelompokkan
Ø Group data : data yang sudah dikelompokkan (misalnya : menurut jenis kelamin : laki-laki dan perempuan)

2. Menurut bentuk angka :
Ø Diskrit : data berbentuk bilangan bulat (misalnya : jumlah pasangan usia subur di kelurahan X sebanyak 45 PUS)
Ø Kontinyu : data berbentuk bilangan desimal/pecahan (misalnya : data rata-rata berat badan anak remaja di Kecamatan X 30,5 kg)

3. Menurut sifatnya :
Ø Data kuantitatif : data yang menyatakan jumlah atau kuantitas (misalnya jumlah pendertia diare di wilayah kerja puskesmas X 12 kasus untuk bulan April tahun 2014).
Ø Data kualitatif : data yang tidak menyatakan jumlah (misalnya : sebagian besar atau mayoritas lansia yang tinggal di panti werda X pernah mengalami kejadian jatuh selama satu bulan terakhir)

4. Menurut sumber :
Ø Data primer : data yang langsung diperoleh dari responden atau informan (misalnya data pengetahuan ibu tentang gizi ibu hamil, dimana peneliti langsung melakukan pengumpulan data menggunakan kuesioner penelitian)
Ø Data sekunder : data yang diperoleh dari orang lain atau lembaga atau organisasi tertentu dimana (misalnya kita ingin mengetahui jumlah pasangan usia subur dari kantor BKKBN ; yang melakukan pendataan adalah petugas BKKBN).

Lagu batak Dainang dan terjemahannya

Lagu batak Dainang dan terjemahannya

Dalan na rais, di hukkupi dolok i
Jalan yang terjal, tertutupi oleh bukit
Loja ho inang di nalao mangula i
sudah lelah engkau ibu yang kerja itu
So sanga tahe di dai ho nasonang i
Belum sempat engkau nikmati jerih payahmu
Holan lao pature-ture au da inang…
Hanya untuk membesarkan aku anakmu ini

Roham tung lambok, nang pe loja ho inang
Hatimu selalu lembut, meskipun engkau sudah lelah
Ikkon do sonang bahenonku ho nian
Sebenarnya aku ingin membahagiakanmu ibu
So sanga di dai ho gogo ni tangan ki
Namun, belum sempat engkau nikmati hasil kerja tangan ku
Hape dang dipaima ho…
Engkau telah pergi

Reff
Aha ma bahenonku,Diama tarbahen au Mambalos burjumi
Apakah yang harus kuperbuat dan tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu ibu
Ia dung dapot au Nalao pasonang roham
Tlah kutemukan yang bisa menyenangkan hatimu ibu
Hape nunga jumolo ho inang
Namun, engkau telah pergi untuk selamanya

On do na hudok tu hamu ale dongan
Inilah pesanku buat teman2 sekalian
Ingot na torasmu, debatam di tano on
Ingatlah orangtuamu, dia adalah wakil Tuhan di dunia ini
Unang dung mate tortoranmu bakke i
Jangan setelah meninggal nanti engkau menari-nari di depan mayatnya
Dang adong be labani
Tiada gunanya lagi sobat

Aha ma bahenonku,Diama tarbahen au Mambalos burjumi
Apakah yang harus kuperbuat dan tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu ibu
Inang nauli basa, Inang nauli lagu
Ibuku yang hebat, ibuku terbaik
Holan dangolnai do bagianmu… 2x
Hanya kesedihanlah rupanya nasibmu 2x

kuatir

Kalian pasti mengenalnya, saya pun mengenalnya, malah saya sering mengalaminya. Namanya adalah kuatir. Sewaktu SMA kita kuatir tentang masa depan kita apakah melanjutkan kuliah atau bekerja. Setelah kuliah kita kuatir tentang pekerjaan kita, berapa lama nanti akan menganggur, dimanakah kita akan bekerja nantinya. Setelah bekerja kita kuatir tentang pernikahan kita. Siapakah nanti “si dia” yang akan menjadi pendamping hidup ku. Apakah dia orangnya baik, apakah dia orangnya mapan. Setelah menikah kita kuatir tentang persalinan, si istri kuatir akan keselamatannya dan suami kuatir akan biaya persalinan. Setelah punya anak kita kuatir anak kita akan jadi apa nantinya, apakah akan menjadi pendeta, apakah bisa nanti menjadi PNS. Begitulah seterusnya kekuatiran selalu ada sepanjang hidup ini. Janganlah kuatir sampai merampas sukacita kita.
Saudaraku, kekuatiran bukanlah keadaan. Kuatir adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk kuatir atau tidak. Kita sendirilah yang menentukan mau kuatir atau tidak. Jangan biarkan kuatir menguasai hidupmu. Jangan biarkan kuatir membuat engkau gampang marah atau emosi, jangan biarkan kuatir menyebabkan engkau stres atau depresi. Ketahuilah saudara kuatir tidak pernah mengerjakan sesuatu yang baik.
Saudaraku, ingat dan camkanlah selalu Firman Tuhan yang tertulis pada Injil Matius 6 ayat 25-26 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”
Benar saudaraku kita jauh melebihi burang-burung itu, kita jauh melebihi bunga bakung. Kita adalah buatan tangan Tuhan. Nafas yang kita hirup dihembuskan oleh Tuhan. Roh Tuhan ada dalam diri kita. Kita punya atribut dalam diri kita untuk berhasil. Kita pasti diberkati.
Jangalah kuatir saudaraku. Serahkanlah semua cita-citamu, harapanmu, impianmu pada Tuhan, berdoalah, bekerjalah, berusahalah, jangan takut gagal. Tuhan pasti buka jalan. Bukankah Tuhan berkata dalam Matius 7 ayat 7-8 “Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok baginya pintu akan dibukakan. Maukah engkau tidak menjadi kuatir ?

Penulis : Manotar Sinaga, S.Kep, M.Kes

variabel penelitian

Pengertian Variabel penelitian
Variabel adalah karakteristik atau sifat atau ciri dari individu yang akan diukur atau diamati. Jadi variabel harus bisa diukur atau diamati.
Contoh :
a. Seorang bayi (individu) mempunyai karakteristik atau ciri-ciri yaitu berat badan, panjang badan, jenis kelamin, usia, suku dan lain sebagainya.Apakah berat badan merupakan variabel? jawabnya Ya, bisa diukur? bisa. Mengunakan apa? timbangan ? hasilnya ? …. kg atau gram.
b. Seorang tenaga keesehatan (individu) yang bekerja di instansi RS pemerintah mempunyai karakterisik atau ciri yaitu motivasi kerja, lama kerja, tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, stres kerja, dan lain sebagainya.

Syarat variabel :
a. Mempunyai nama
b. Harus bisa diukur atau diamati
c. Nilainya bervariasi/heterogen atau berbeda beda untuk setiap individu

Jenis/macam variabel
a. Variabel independen
Yaitu variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi atau variabel pemicu atau variabel penyebab
Contoh : Perilaku merokok dengan kejadian kanker paru
V.Independen : perilaku merokok
V.Dependen : kejadian kanker paru

b.Variabel dependen
Yaitu variabel terikat atau variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat
Contoh : Perilaku merokok dengan kejadian kanker paru
V.Independen : perilaku merokok
V.Dependen : kejadian kanker paru

c. Variabel perantara
Yaitu variabel yang menjembatani pengaruh suatu variabel independen terhadap variabel dependen.
Contoh : Gaji akan meningkatkan kinerja bidan delima, dengan gaji yang memuasakan akan memotivasi bidan delima untuk bekerja lebih optimal sehingga kinerja bidan delima akan semaki baik.
V.Independen : gaji
V.Dependen : kinerja
V.Perantara : motivasi

d. Variabel pendahulu
Variabel independen yang bisa mempengaruhi variabel independen yang akan diteliti dan juga mempengaruhi variabel dependen.
Contoh : Pengetahuan tentang BPJS akan berpengaruh terhadap persepsi tentang BPJS. Tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan tentang BPJS. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi tentang BPJS
V.Independen : pengetahuan tentang BPJS
V.Dependen : persepsi tentang BPJS
V.Pendahulu : tingkat pendidikan
e. Variabel prakondisi
Variabel yang keberadaannya merupakan prasyarat agar variabel independen bisa bekerja terhadap variabel dependen.
Contoh : Gigitan nyamuk akan menyebabkan penyakit malaria dengan catatan bahwa dalam tubuh nyamuk terdapat parasit plasmodium.
V.Independen : gigitan nyamuk
V.Dependen : penyakit malaria
V.Prasyarat : adanya parasit plasmodium

Sudahkah kita berbuah ?

Sudahkah kita berbuah ?

Ketika kita menanam pohon buah-buahan, apakah yang kita harapkan? Tentu saja kita berharap pohon itu akan bertumbuh dan berbuah lebat. Namun, jika setelah sekian lama merawatnya, pohon itu hanya tumbuh lebat daunnya tetapi tidak ada buahnya sama sekali padahal kita sudah bersusah payah merawatnya, menyiraminya dan memberi pupuk setiap hari dalam waktu yang tidak singkat, tentunya akan membuat kita sangat kecewa. Ini seperti pohon ara yang dibicarakan Yesus pada Lukas 13 ayat 7 “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!”. Pohon yang tidak berbuah pasti akan mengecewakan pemiliknya.
Begitu juga dengan kehidupan kita orang Kristen yang tidak berbuah. Yesus pun berkata dalam Yohannes 15 ayat 2 : ”Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya”. Banyak dari kita yang sudah bertahun-tahun jadi Kristen tetapi karakter hidupnya tetap saja tidak berubah, tidak bertumbuh, kerdil alias masih kanak-kanak dalam rohani. Dalam Ibrani 5 ayat 12-13 dikatakan : “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras”. Bukankah ini seperti benih yang jatuh di pinggir jalan lalu benih itu dimakan burung atau benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu sehingga tidak bisa berakar, tumbuh sebentar dan akhinya kering atau mati. Atau juga benih yang jatuh di tanah semak duri lalu terhimpit semak duri itu sendiri dan akhirnya mati. Benih itu bercerita tentang Firman Tuhan. Kita banyak mendengar Firman baik melalui khotbah para hamba Tuhan atau membaca renungan, tapi Firman itu rasa-rasanya berlalu begitu saja. Apalagi kalau firman yang disampaikan itu keras, kita langsung tersinggung dan marah terhadap hamba Tuhan itu.
Alkitab menegaskan bahwa untuk menghasilkan buah, ranting-rantingnya harus dibersihkan. Proses pembersihan inilah yang disebut pembentukan, baik itu melalui teguran, ajaran dan sebagainya dengan tujuan untuk mendisiplinkan kita, bukan untuk maksud menyakiti tapi demi kebaikan kita. Yohannes 15 ayat 8 “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”. Hidup yang berbuah adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya. Itu sebagai tanda bahwa kita adalah murid-muridNya.
Bagaimana caranya supaya kita berbuah? Dalam Yohannes 15 ayat 4 dikatakan “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”. Untuk menegaskan hal ini kata tinggal ditulis sampai sepuluh kali dalam 10 ayat pertama dalam Yohannes 15 ini. Tinggal di dalam Tuhan berarti taat melakukan Firman Nya. Ketaatan kita melakukan Firman itu adalah buah-buah roh. Inilah yang dinilai dunia, orang Kristen yang berbuah adalah yang hidupnya jadi kesaksian baik bagi orang-orang di luar Tuhan. Kepada jemaat Filipi Rasul Paulus berpesan dalam Filii 2 ayat 15” supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,”.
Inilah tugas yang kita emban sebagai seorang Kristen yaitu memiliki kehidupan yang bercahaya di tengah dunia yang penuh kegelapan ini. Orang Kristen yang berbuah adalah orang Kristen yang melayani Tuhan sesuai dengan talenta dan karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Pengorbanan yang kita berikan kepada Tuhan adalah buah-buah yang dapat memperlebar Kerajaan Allah di muka bumi ini. Tetapi banyak orang Kristen yang enggan untuk terlibat dalam pelayanan karena harus berkorban dan memberi, tidak punya waktu dan takut menggangu pekerjaan mereka. Itu yang mereka hindari. Dalam Ibarani 6 ayat 10 mengatakan “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang”. Jadi jerih payah kita untuk melayani Tuhan, apapun bentuknya tidak akan pernah sia-sia. Amin