Pacaran ala Kristen

Pacaran ala Kristen

Masa pacaran merupakan masa yang sangat menentukan hidup. Pacaran dapat berdampak positif yaitu hidup lebih maju atau lebih baik bila mendapatkan pacar yang takut akan Tuhan. Namun, pacaran dapat juga berdampak negatif yaitu menghancukan masa depan, menghancurkan hubungan keluarga, merusak persahabatan, dan merusak diri sendiri kalau mendapatkan pacar yang tidak takut akan Tuhan.
Banyak pemuda-pemudi kristen yang tersandung dalam masa pacaran. Pacaran yang terlalu cepat, mendapat pasangan yang salah, dan menjadikan pacaran sebagai tempat pelarian. Dampaknya adalah pemuda-pemudi tidak bisa lagi menjaga kesucian tubuh, melakukan seks sewaktu berpacaran, hamil di luar nikah, aborsi, menonton film porno, rusaknya hubungan dengan orangtua, menjadi pribadi yang pemalas, tidak produktif dan efek buruk lainnya.
Saudaraku, ingatlah untuk segala sesuatu ada waktunya. Demikian juga dengan berpacaran. Pacaran merupakan masa persiapan untuk pernikahan. Kita baiknya berpacaran jika sudah siap untuk menikah, sudah dewasa, dan mapan secara ekonomi (berpenghasilan).
Saudaraku, kita harus memiliki kesabaran karena Tuhan pasti tuntun kita dengan cara yang ajaib untuk mendapatkan pasangan hidup. Persiapkanlah dirimu sebaikmungkin, belajarlah menjadi lebih dewasa, hargailah kesucian tubuhmu seperti yang tertulis dalam 1 Tesalonika 4:3-5 “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah”.
Semua orang akan mencari yang terbaik menurut versinya. Untuk itu kita harus menjadi pribadi yang berkualitas. Pria akan membawa wanita berkualitas ke altar gereja dan membawa wanita yang tidak berkualitas ke tempat tidurnya.

Pacaran yang salah
a. Berpacaran dengan orang yang salah (tidak seiman, berpacaran dengan suami orang atau istri orang)
b. Melakukan hubungan seks sewaktu pacaran , non blue film, mabuk, judi, merokok, narkoba, dan sebagainya.
c. Pacaran sebagai tempat pelarian
d. Pacaran terlalu cepat jadian (karena faktor usia, proses pencarian cinta yang melelahkan)

Tips menghindari hubungan seks dalam masa pacaran
1. Kalau lagi pacaran ingatlah Tuhan ada dimana
2. Jangan masuk kamar cowok apapun alasannya
3. Jangan beli pakaian dalam bersama pacar
4. Jangan pacaran di ruangan gelap

Kapan boleh pacaran :
1. Dewasa
2. Siap menikah
3. Mapan

Tanda pacaran sehat (sesuai rencana Tuhan)
1. Membuat kita lebih dekat dengan Tuhan
2. Motivasi untuk masa depan yang lebih baik
3. Mendorong saya untuk lebih bertanggung jawab (dewasa)
4. Membuat kita lebih maju dalam kehidupan
5. Membawa hal-hal yang positif (misalnya dengan orangtua)

Cara cari pasangan : tips nya buat daftar (ingatlah Tuhan akan memberikan yang paling pas untuk kita/sepadan)
1. Seiman
2. Mengerti kondisi keluarga kita
3. Bisa Menerima kita
4. Pastikan dia juga tidak rugi mendapatkan kita
5. Tidak ada pasangan yang sempurna

Pacaran yang salah
1. Tidak seiman
2. Melakukan hubungan seks : ciuman, rabaan
3. Tidak mengasihi : tidak ada pengorbanan, hanya ingin keuntungan, hanya melukai perasaan, memukul pacar
4. Tidak ada kecocokan : jauh dari orangtua, kerja berantakan
5. Cepat kali jadian (belum kelihatan sifat aslinya, semua butuh waktu, idealnya 5-6 bulan untuk tahu kepribadian)

Belum bisa pacaran :
1. Belum kenal Tuhan : susah diatur hidupnya, tidak ada kasih
2. Pembosan dan senang berpetualang
3. Tidak dapat berkomitmen
4. Sifat kanak-kanak
5. Belum punya prinsip : tidak bisa menolak atau menyampaikan mendapat
6. Orang yang cuek
7. Orang yang tidak menghargai kesucian

Pengantar Metodologi Keperawatan

Pengantar Metodologi Keperawatan

A. Metodologi
Metodologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “metodos” dan “logos”. Kata metodos terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Jadi metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan (Wikipedia, 2018). Metode merupakan cara melakukan sesuatu hal. Sedangkan logos artinya ilmu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metodologi adalah ilmu yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu.
Ilmu berbeda dengan pengetahuan. Pengetahuan adalah hasil dari tahu manusia yang didapat melalui proses penginderaan (penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan perasa). Sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang mempunyai objek kajian tertentu, mempunyai metode pendekatan, disusun secara sistematis dan bersifat universal (Notoatmodjo, 2010). Semua ilmu merupakan pengetahuan, namun semua pengetahuan belum tentu merupakan ilmu.
Keperawatan merupakan ilmu karena telah memenuhi syarat sebagai ilmu, yaitu :
a. Mempunyai objek kajian tertentu (individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat)
b. Mempunyai metode pendekatan (asuhan keperawatan)
c. Disusun secara sistematis (mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi).
d. Bersifat universal (sudah mendapat pengakuan).

B. Keperawatan
Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat (Indonesia, 2014). Asuhan Keperawatan adalah rangkaian interaksi Perawat dengan Klien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian Klien dalam merawat dirinya. Asuhan keperawatan merupakan bimbingan, bantuan, pertolongan yang diberikan oleh perawat kepada individu yang membutuhkan.
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Tugas Perawat :
a. Pemberi Asuhan Keperawatan
b. Penyuluh dan konselor bagi Klien
c. Pengelola Pelayanan Keperawatan
d. Peneliti Keperawatan
e. Pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang
f. Pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu
Dalam menjalankan tugas sebagai pemberi Asuhan Keperawatan di bidang upaya kesehatan perorangan, Perawat berwenang :
a. Melakukan pengkajian Keperawatan secara holistik
b. Menetapkan diagnosis Keperawatan
c. Merencanakan tindakan Keperawatan
d. Melaksanakan tindakan Keperawatan
e. Mengevaluasi hasil tindakan Keperawatan
f. Melakukan rujukan
g. Memberikan tindakan pada keadaan gawat darurat sesuai dengan kompetensi
h. Memberikan konsultasi Keperawatan dan berkolaborasi dengan dokter;
i. Melakukan penyuluhan kesehatan dan konseling
j. Melakukan penatalaksanaan pemberian obat kepada Klien sesuai Dengan resep tenaga medis atau obat bebas dan obat bebas terbatas.
Materi dapat di download pada linkPengatar Metodologi Keperawatan

John Snow (1813-1858)

Pada paroh pertama abad ke 19 terjadi pandemi kolera di berbagai belahan dunia. Epidemi kolera menyerang London pada tahun 1840an dan 1853-1854. Pada zaman itu sebagian besar dokter berkeyakinan, penyakit seperti kolera dan sampar (The Black Death) disebabkan oleh miasma (udara kotor) yang dicemari oleh bahan organik yang membusuk. Seorang dokter bernama John Snow memiliki pandangan yang sama sekali berbeda dengan dokter lainnya (Gambar 1). Pada waktu itu belum dikenal Teori Kuman (Germ Theory).

Artinya, John Snow tidak mengetahui agen etiologis yang sesungguhnya menyebabkan penyakit. Tetapi berdasarkan bukti-bukti yang ada, Snow yakin bahwa penyebab penyakit bukan karena menghirup udara kotor. Snow, yang juga dikenal sebagai pendiri anestesiologi, mengemukakan hipotesis bahwa penyebab yang sesungguhnya adalah air minum yang terkontaminasi tinja (feses). Snow mempublikasikan teorinya untuk pertama kali dalam sebuah esai “On the Mode of Communication of Cholera” pada 1849. Edisi kedua diterbitkan pada 1855, memuat hasil investigasi yang lebih terinci tentang efek suplai air pada epidemi 1854 di Soho, London.

September 1854, Snow melakukan investigasi outbreak kolera di distrik Soho, London. Hanya dalam tempo 10 hari 500 orang meninggal karena penyakit itu. John Snow, menggambarkan keadaan itu “the most terrible outbreak of cholera which ever occurred in the United Kingdom”. Hasil analisis Snow menemukan, kematian karena kolera mengelompok di seputar 250 yard dari sumber air minum yang banyak digunakan penduduk, yaitu pompa air umum yang terletak di Broad Street (kini Broadwick Street) (Gambar 2).

Snow mendeskripsikan pola penyebaran kasus kolera dan lokasi pompa air minum dalam sebuah spotmap. Spotmap merupakan sebuah metode yang lazim digunakan dalam investigasi outbreak dewasa ini. Snow melaporkan temuan kepada pihak berwenang setempat, disertai dugaan tentang penyebabnya. Dia meminta otoritas setempat untuk melarang penggunaan pompa Broad Street. Hasil investigasi Snow rupanya cukup meyakinkan para otoritas sehingga penggunaan pompa air umum dihentikan, dan segera setelah itu tidak ada lagi kematian karena kolera di Soho dan sekitarnya.

Jhon Snow melanjutkan investigasinya dengan sebuah riset epidemiologi yang lebih formal dan terkontrol, disebut eksperimen alamiah (natural experiment) di London pada 1854. Investigasi itu bertujuan menguji hipotesis bahwa kolera ditularkan melalui air yang terkontaminasi. Pada waktu itu, rumah tangga di London memperoleh air minum dari dua perusahaan air minum swasta: (1) Lambeth Company, dan (2) Southwark-Vauxhall. Air yang disuplai berasal dari bagian hilir Sungai Thames yang paling tercemar. Suatu saat Lambeth Company mengalihkan sumber air ke bagian hulu Sungai Thames yang kurang tercemar, sedang Southwark-Vauxhall tidak memindahkan lokasi sumber air. Jadi investigasi Snow disebut eksperimen karena meneliti efek dari perbedaan sumber air minum sebagai suatu intervensi yang diberikan kepada populasi-populasi yang berbeda. Eksperimen itu disebut alamiah karena Snow sebagai peneliti tidak dengan sengaja membuat terjadinya perbedaan suplai air minum. Tetapi Rothman (1986) dalam bukunya Modern Epidemiology mengatakan, studi Snow yang disebut natural experiment itu sesungguhnya sama sebangun dengan studi kohort yang dikenal setengah abad kemudian pada awal abad ke 20. Snow merumuskan hipotesis, kematian karena kolera lebih rendah pada penduduk yang mendapatkan air dari Lambeth Company daripada memperoleh air dari Southwark-Vauxhall.

Dalam mengumpulkan data, John Snow berjalan kaki dari rumah ke rumah, melakukan wawancara dengan setiap kepala rumah tangga, menghitung kematian karena kolera pada setiap rumah, dan mencatat nama perusahaan penyedia air minum yang memasok masing-masing rumah, sehingga kegiatannya itu terkenal dengan sebutan “shoe-leather epidemiology”. Tabel 1 menunjukkan, angka kematian karena kolera pada distrik yang disuplai air minum dari Southwark and Vauxhall Company 5.0 per 1000 populasi, jadi 5 kali lebih banyak daripada distrik yang disuplai Lambeth Company. Angka kematian itu dua kali lebih besar daripada distrik yang disuplai oleh kedua perusahaan air minum. Hasil pengamatan itu konsisten dengan hipotesis Snow bahwa risiko kematian karena kolera lebih tinggi pada penduduk yang mendapatkan air minum dari Southwark-Vauxhall Company ketimbang penduduk yang memperoleh air dari Lambeth Company.

Tabel 1 Mortalitas karena kolera pada distrik di London yang disuplai oleh Southwark and Vauxhall, dan Lambeth Company, 8 Juli sampai 26 Agustus 1854

Mula-mula temuan Snow ditolak oleh komunitas profesi kedokteran, karena bertentangan dengan teori miasma. Penolakan juga disebabkan ketidakmampuan Snow mengidentifikasi agen spesifik penyebab kolera. Baru 40 tahun kemudian ahli bakteriologi Jerman bernama Robert Koch berhasil mengidentifikasi Vibrio cholera sebagai agen penyebab kolera. Robert Koch termashur dengan riset tentang tuberkulosis dan konfirmasinya bahwa kuman (germ, mikroorganisme) sebagai penyebab penyakit infeksi. Penemuan Koch tentang Vibrio cholera telah mengisi bagian yang hilang dalam teka-teki kausa kolera.

Investigasi outbreak yang dilakukan Snow merupakan peristiwa besar dalam sejarah epidemiologi dan kesehatan masyarakat. Sebab meskipun pada masanya belum ditemukan Vibrio cholera, hasil riset Snow telah memberikan informasi yang bermanfaat kepada otoritas di London bahwa agen penyebab epidemi kolera terletak pada air yang terkontaminasi feses, dengan demikian dapat dilakukan langkah-langkah yang perlu untuk menghentikan epidemi. Upaya yang dilakukan Snow memberikan pelajaran bahwa epidemiologi dapat memainkan peran preventif penting meskipun mikroorganisme spesifik kausal terjadinya penyakit belum/tidak diketahui. Pendekatan analisis yang digunakan Snow yang menghubungkan kontaminasi air dengan terjadinya wabah kolera tanpa membuat asumsi terinci tentang mekanisme kausal yang belum diketahui, disebut epidemiologi kotak hitam (black box epidemiology).

Bersamaan dengan seorang dokter Inggris lainnya, William Farr, dan seorang dokter Hungaria, Ignaz Semmelweis, John Snow dipandang sebagai pendiri epidemiologi modern. Ketiga tokoh bersama-sama membawa epidemiologi dari sekedar berfungsi untuk mendeskripsi distribusi penyakit dan kematian pada populasi, menjadi epidemiologi yang berfungsi untuk menganalisis dan menjelaskan kausa distribusi penyakit dan kematian pada populasi. Kontribusi epidemiologis ketiga tokoh tersebut mencakup konsep pengujian hipotesis, suatu metode ilmiah yang diperlukan untuk memajukan sains apapun.
Tugas Diskusi
1. Masalah kesehatan apa (what) yang dibahas dari cerita diatas ?
2. Berapa frekuensi (how many) masalah kesehatan tersebut ?
3. Siapa (who) yang terkena masalah kesehatan tersebut ?
4. Dimana (where) masalah kesehatan tersebut terjadi ?
5. Kapan (when) masalah kesehatan tersebut terjadi ?
6. Mengapa (why) masalah kesehatan tersebut terjadi ?
7. Apa rumusan hipotesa yang dibuat Jhon Snow ?
8. Bagaimana cara Jhon Snow membuktikan hipotesanya ?
9. Bagaimana cara Jhon Swon mengumpulkan data untuk membuktikan hipotesanya ?
10. Mengapa angka kematian kolera perusahaan pemasok air minum Southwark and Vauxhall Company lebih tinggi dibandingkan perusahaan pemasok air minum Lambeth Company ?

Pertanyaan yang sering ditanyakan pada sidang proposal skripsi

Pertanyaan yang sering ditanyakan pada sidang proposal skripsi
1. Mengapa Anda tertarik dengan judul tersebut atau
Apa alasan Anda melakukan penelitian tersebut
Jawabannya : Latar belakang  buat alur ceritanya
Contoh : pengambilan darah penting dilakukan untuk mendiagosa suatu penyakit
 Pada pengambilan darah pasti terjadi nyeri (penusukan)  dampak nyeri  angka kejadian  untuk mengatasi nyeri dapat dilakukan terapi non farmakologis dan farmakologis  terapi non farmakologis untuk metode kanguru dan metode empeng  hasil survei pendahuluan  mana yang lebih efektif belum diketahui  makanya tertarik

2. Apa tujuan penelitian Anda
Tujuan : untuk mengetahui apa ?
Tujuan umum  tujuan utama, tidak perlu dirinci, untuk mengetahui … (judul)
Tujuan khusus  tujuan lainnya, yang perlu dirinci, bisa dibuat dibuat berdasakan variabel penelitian, kelompok intervensi
Misalnya : 1. Mengetahai efektivitas metode kanguru dalam menurunkan nyeri
2. Mengetahui efektivitas metode empeng dalam menurunkan nyeri
Contoh lain : 1. Mengetahui pengetahuan pasien dm sebelum penyuluhan
2. Mengetahui pengetahuan pasien dm sesudah penyuluhan

3. Apa manfaat penelitian ini ?
Manfaat teoritis  menambah pengetahuan atau wawasan atau ilmu si penulis, responden
Manfaat praktis  masukan bagi pelayanan keperawatan tentang intervensi yang paling efektif dalam mengatasi nyeri

4. Apa variabel penelitian nya (variabel independen dan variabel dependen)
Variabel independen : penyebab, bebas, mempengaruhi
Variabel dependen : akibat, terikat, dipengaruhi
Pendidikan (independen) terhadap pengetahuan (dependen)

5. Bagaimana cara pengumpulan data nya
Kuesioner  untuk pengetahuan, sikap, persepsi, dukungan keluarga, pola asuh, dan sebagainya
Lembar observasi  kualitas air bersih, perilaku cuci tangan
Rekam medik/dummy tabel
Lembar wawancara
Pengukuran ; alat ukur

6. Siapa populasi, cara pengambilan sampel, besar sampel
Pupulasi : Keseluruhan
Sampel : bagian dari populasi

7. Analisa data,
Univariat : deskriptif
Bivariat : hubungan/pengaruh

8. Penyusunan kuesioner
1. Buat kisi-kisinya
2. Sesuai bab 2 tinjauan pustaka
3. Bisa modifikasi dari penelitian orang lain

9. Tinjauan pustaka/teori

10. Hasil survei pendahuluan, caranya : rekam medic, wawancara singkat, observasi singkat

11. Kerangka konsep vs kerangka teori
Kerangka konsep : apa yang diteliti
Kerangka teori : teori yang mendasari penelitian

12. Hipotesis
Hipotesa altenatif : menyatakan ada hubungan/pengaruh/perbedaan
Hipotesa nol : menyatakan tidak ada hubungan/pengaruh/perbedaan

Semoga bermanfaat

Panduan Pembelajaran Mandiri : Diskusi

Panduan Pembelajaran Mandiri : Diskusi
1. Mahasiswa menyusun makalah
Judul :
1. Epidemiologi Nyeri
2. Epidemiologi Dekubitus

Pedoman penyusunan makalah
Cover
Kata pengantar
Daftar isi
Bagian Isi :
A. Konsep Nyeri/Dekubitus
1. Definisi
2. Penyebab
3. Dan seterusnya
B. Konsep Epidemiologi
1. Frekuensi
2. Distribusi (orang, waktu, tempat)
3. Determinan
Daftar pustaka

2. Mahasiswa Melakukan Presentasi
A. Mahasiswa menyusun power point : maksimal 10 slide, menarik
B. Moderator (dari kelompok lain) memandu presentasi
C. Mahasiswa presentasi

Penilaian Pembelajaran Diskusi
Nama/Kelompok :
Judul Makalah :
Anggota :1. 2.
3. 4.

Bawalah Persembahanmu

“Bawalah Persembahanmu”
Bawalah Persembahanmu s’karang
Ke altar yang suci
Semoga Allah Bapa berkenan
Mengambil tanda cintamu

Bawalah hati indah berseri
Ke altar yang suci
Semoga Allah Bapa berkenan
Mengambil bunga cintamu

Lenyaplah kesan hampa gulana
Semarak kini medan berbakti
Berhiaskan niat warna warni
Bagaikan kembang mekar berseri

Bawalah senandung pasrah diri
Ke altar yang suci
Semoga Allah Bapa berkenan
Mengambil bakti dirimu